27 Perspektif, 1 Misi Kemanusiaan: Catatan Perjalanan D.D. Zulfa di The Global and Cultural Exposure 2026

Bagi banyak mahasiswa, mengikuti ajang internasional adalah tentang menambah barisan prestasi di curriculum vitae. Namun, bagi D.D. Zulfa, mahasiswa Teknik Kimia Universitas Muhammadiyah Riau (UMRI), perjalanannya dalam The Global and Cultural Exposure (GCE) 2026 ke Malaysia dan Thailand pada April 2026 ini memiliki makna yang jauh lebih dalam: sebuah misi untuk membawa nama almamater ke panggung dunia dan memahami kompleksitas global melalui lensa kemanusiaan.

Sejak langkah pertama di lokasi acara, DD, panggilan akrabnya, menyadari bahwa kehadirannya bukan sekadar membawa nama pribadi, melainkan representasi dari Universitas Muhammadiyah Riau. Di tengah peserta dari 27 negara dengan latar belakang, perspektif, dan pengalaman yang beragam, ia memilih hadir dengan sikap terbuka dan keinginan besar untuk belajar. Baginya, kesan pertama adalah tentang bagaimana membangun rasa percaya dan koneksi yang nantinya akan menumbuhkan kolaborasi bermakna.

Perjalanan dimulai pada 15 April 2026 di Penang, Malaysia, melalui obrolan hangat saat makan malam dengan menu nasi kari khas setempat. Agenda resmi berlanjut di Universitas Muhammadiyah Malaysia melalui seminar internasional yang membahas kepemimpinan dan isu global. Eksplorasi berlanjut hingga ke Thailand, di mana DD belajar bahwa perbedaan bahasa dan budaya bukanlah hambatan, melainkan peluang untuk memperluas cakrawala berpikir. Seluruh rangkaian kegiatan ini ditutup dengan pengalaman spiritual di Masjid Kapitan Keling, Penang, yang memperkuat rasa syukur atas keberagaman yang ada.

Momen paling berkesan bagi DD terjadi saat Focus Group Discussion (FGD) yang membahas konflik di Timur Tengah. Sebagai mahasiswa Teknik Kimia, pemikiran pertamanya langsung tertuju pada stabilitas pasokan energi dan dampak ekonomi global.

Namun, perspektifnya seakan "dibuka" saat mendengar rekan delegasi lain dari bidang kesehatan berbicara tentang krisis kemanusiaan, keselamatan masyarakat, serta sulitnya akses obat-obatan di wilayah konflik. "Di situlah saya belajar bahwa memahami dunia tidak cukup hanya dari satu disiplin ilmu. Keberagaman perspektif itulah yang memperkaya cara kita berpikir dan membantu kita menemukan solusi yang lebih utuh," ungkapnya.

Kepedulian DD terhadap isu sosial semakin terasah saat melaksanakan community service di Kulim, Malaysia. Di sana, ia bertemu dengan anak-anak Indonesia yang tengah menempuh pendidikan di negeri jiran. Pertemuan tersebut membuka matanya akan adanya ketimpangan akses pendidikan dan lingkungan sosial yang layak di tengah pesatnya perkembangan zaman. Momen ini menjadi refleksi penting bagi generasi muda untuk tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga bagian dari solusi global.

Pada malam puncak closing ceremony, DD merayakan kebersamaan melalui penampilan budaya. Dengan bangga, ia mengenakan baju adat Melayu Riau dan membawakan puisi tentang peran penting generasi muda dalam menyikapi perbedaan. Penampilan ini menjadi bukti bahwa identitas lokal tetap memiliki tempat yang istimewa di panggung internasional yang diikuti oleh 27 negara.

Di balik kesuksesannya hari ini, Zulfa tidak ragu berbagi sisi lain perjalanannya. Ia mengakui pernah gagal berkali-kali, ditolak, dan sempat meragukan kemampuannya sendiri. Namun, ia meyakini bahwa kegagalan adalah bagian tak terpisahkan dari proses pembentukan mental dan ketahanan diri.

Bagi rekan-rekan mahasiswa UMRI lainnya, DD menitipkan sebuah pesan kuat: dunia di luar sana sangat luas dan setiap mahasiswa punya tempat di dalamnya. "Tugas kita bukan menunggu siap, tapi berani memulai dan terus berjalan. Gagal tidak apa-apa, berhenti yang harus kita hindari," pungkasnya.